Selasa, April 14, 2015

Tips Berpakaian Bagi Pemilik Tubuh Besar

Jika anda kebetulan memiliki tubuh besar, tidak ada salahnya untuk mencoba tips-tips berikut ini untuk memperindah penampilan anda.

1.Jangan pernah pakai baju adik-adik kalian ya (read : baju ketat) ! Baju ketat itu bikin apa yang harus disembunyiin makin kelihatan.
2.Gak selamanya harus pakai baju berwarna gelap koq bagi orang gemuk. Berwarna cerah juga boleh tapi jangan yang ‘mencling-mencling’. Lebih baik pilih warna – warna pastel.
3.Pakailah baju yang yang ketika dikenakan, bagus di tubuh. Jangan melihat baju itu bagus ketika dipanjang di manekin., lalu segera pengen beli. Tubuh manekin belum tentu sama dengan tubuh anda (pasti jauh beda malah).
4.Hindari motif zebra horizontal.
5.Bahan yang sesuai juga membantu untuk sedikit “memperkecil” badan. Pilihlah bahan-bahan pakaian yang jatuh / agak berat. Penggunaan bahan seperti chifon boleh saja asal dilapisi dengan furing ya biar tidak transparan.
6.Penggunaan ikat pinggang juga adalah salah satu cara “memperkecil” tubuh. Tapi, pilih yang ukurannya kecil ya.
7.Outer juga adalah satu outfit yang membantu. Jangan sekali-kali pilih outer yang panjangnya di atas pinggul jika kebetulan pinggul anda lebar.
8.Cara pemakaian jilbab juga menentukan seperti apa nanti penampilan kita. Begitu juga dengan bahan jilbab yang kita pakai akan mempengaruhi penampilan akhir kita. Bahan yang tebal dan tidak jatuh akan ‘menghilangkan’ leher sehingga kelihatan lebih ‘bulat’.

Sekian, itu dulu tips berpakaian bagi pemilik tubuh besar dari saya yang semuanya telah saya praktekkan. Selamat mencoba .

P/S : Di foto ini, saya menggunakan outer untuk 'memotong' sedikit lebar tubuh dan bentuk layer pada cardigan bermanfaat untuk 'mengecilkan' tubuh.


Catatan Perjalanan Malang-Bandung-Medan (Part II)

Yaahh,,,, secara Indonesia kan negara yang penuh dengat adat ketimuran. Sopan santun sangat diutamakan dalam keadaan apapun. Bahkan, marah sekalipun. Balik kepada pasangan tadi, rasanya tidak perlu aku ceritakan lebih lanjut ya aktivitas mereka, mempertimbangkan adat ketimuran kita. Lagian, karena waktu sudah malam, akhirnya aku mafhum saja.

Perjalanan Malang- Bandung ini berakhir sekitar jam 5.00 WIB. Di stasiun Kota Bandung sudah menjelang waktu sholat shubuh. Setelah barang bawaan ku pastikan tidak ada yang tertinggal, aku menuju ke Musholla yang terletak tidak jauh dari pintu keluar kereta. Dari jauh, aku menerka-nerka bagaimana suasana musollanya. Menurut pengalamanku, jarang sekali ada Musolla atau tempat solat umum yang mampu membuatku betah berlama-lama berada di sana. Namun, sepertinya di stasiun ini penilaianku akan berbeda.

Sebaik masuk, “waah,, bagus juga”. Lampu yang menghiasi ruangan kecil tersebut berwarna oren, memberikan sedikit kesan mewah. Ditambah dengan desain interior yang terbilang unik untuk sebuah Musolla. Aku tidak bisa menggambar secara detail karena aku sendiri tidak paham dengan istilah-istilah di dunia arsitektur. Yang pasti, disediakan rak-rak kayu khusus untuk menata Al-Quran dan mukena-mukenanya. Rak kayu ini sepertinya terbuat dari kayu jati warna coklat gelap. Hampir keseluruhan ruangan dihiasi dengan kayu jati warna coklat gelap tersebut, menambah kesan mewahnya. Bukan itu saja, bahkan kamar mandinya pun sangat nyaman sekali. Tapi, waktu itu jumlah penumpang yang memadati mengurangi kenyamanan. Jadi, setelah selesai sholat aku langsung menghubungi teman Ummi yang tinggal di Bandung untuk menjemput.

Pak Candra, teman Ummi yang ku maksud, tiba di stasiun sekitar jam 7 pagi. Dengan menggunakan motor aku dibawa ke rumahnya setelah terlebih dulu sarapan di KFC. Pikiranku masih terbayang-bayang dengan suasana stasiun Kota Bandung yang benar-benar menimbulakn decak kagm dari bibirku. Secara keseluruhan, jika stasiun kereta Kota Malang bernilai 5/10, maka Bandung ku beri nilai 9/10. Ahh, Bandung, suatu hari nanti kau akan kujajah dengan kameraku. Hehe.

Senin, April 13, 2015

(Review) Siang Hari di Salon RumahQu, Kota Malang

Kali ini saya mau ngereview pelayanan di Salon Muslimah RumahQu, beralamat di Jl. Gajayana , persis sebelah Sardo. Awalnya informasi mengenai salon ini saya dapat dari internet, dan kebetulan lokasinya juga dekat dengan kampus saya. Tapi, saya jarang menemukan review dari pelanggan salon ini di blog-blog yang berseliweran di dunia maya sebagaimana banyaknya review mengenai produk kecantikan Hada Labo. Sehingga saya tidak bisa menebak kualitas pelayanan disini. Nah, langsusng saja ya... saya ke salon tersebut hanya buat potong rambut, tapi, karena gak ada pelayanan potong doang akhirnya saya pilih yang potong + hair tonic + vitamin.

Kesan awal masuk, udah gak enak. Sepi dan pegawainya gak tau lagi ngapain. Sekitar 3-4 menit kemudian, baru mbak pegawainya nongol dan meminta saya memilih paket pelayanan. Ruang perawatannya berantakan dengan segala macam peralatan. Selain berantakan, peralatan-peralatannya kelihatan seperti tidak dirawat. Ketika celingak-celinguk memerhatikan sekitar, kelihatan seorang pegawai sedang tidur pulas di salah satu kamar. Waduh, waduh, itu mbak pegawai memanfaatkan waktu kosong dengan baik ya,, (ngomongnya pake ekspresi wajah agak gimanaaa gitu..). Kemudian saya disuruh duduk di sebuah kursi yang dikhususkan untuk keramas sebelum rambut dipotong. Nah,, disini ketidak sreg-an saya pada salon ini semakin nambah. Selama dikeramas, jilbab saya tidak digantung atau dicantol gitu, tapi cuma bia dipegang karena memang tidak ada tempat buat naruh tu jilbab.

Mungkin sekitar 10-15 menit kemudian, rambut saya selesai dikeramas dan hasilnya wangiii... gak tau juga sich pake sampo apa ya. Selain dikeramas, kulit kepala saya juga dipijat untuk melancarkan aliran darah (ini sich saya baca di buku-buku kecantikan gitu, karena mbaknya juga gak bilang manfaat pemijatan kulit kepala itu apaan) . Biasanya setelah keramas kita-kita (kita..gue aja kali,,hehe) ngeringin rambut dengan menggulung rambut kita kencang-kencang dengan handuk, rasanya teknik ini juga dikenakan di sini. Walaupun saya gak bisa melihat dengan jelas apakah teknik yang digunakan sama, tapi feel yang saya rasakan jelas sekali sama. Rasa ketarik-tarik gitu.Padahal di artikel kecantikan yang pernah saya baca, teknik seperti ini tidak baik untuk kesehatan akar rambut.

Okelah, setelah keramas, saya diminta pindah tempat duduk di sebuah kursi yang ada meja riasnya. Si mbak pegawai pun memasangkan apa ya namanya,,lupa saya..pokoknya ya itulah,, biar potongan-potongan rambutnya gak nempel di baju. Lalu rambut saya disisir untuk memulai proses pemotongan rambut. ya, disini proses potong rambutnya dilakukan sewaktu rambut masih basah. Dan, lagi-lagi setau saya nie menurut buku-buku kecantikan yang saya baca, menyisir rambut ketika basah itu akan mematahkan rambut karena helaian rambut beserta akarnya masih lembut sehingga rambut menjadi lebih rapuh. Selain itu, untuk memotong rambut sebaiknya tidak dilakukan pada rambut yang masih basah. Kenapa? Karena hasilnya tidak akan sama jika rambut sudah kering nanti.

Selesai proses potong rambut, kulit kepala saya dipijat lagi serta di'tonikin', baru setelah itu dikeringin pake hairdryer. Selama proses pemotongan sampai pemberian vitamin di akhir, saya melihat-lihat majalah yang terletak di atas meja rias tersebut. Majalahnya sudah jadul, tahun 2012. Jadi malas mau baca artikel-artikelnya. Melihat ke sebelah meja, disana ada rak yang berisi sisir berbagai bentuk dan kebanyakannya dipenuhi dengan rambut. Helai-helai rambut juga terlihat di rak peralatan itu. Haduuh,,, beneran dech, salon ini kurang menjaga kebersihannya. Overall, penilaian saya terhadap pelayanan di salon ini adalah 6/10. Hasil potongan rambutnya tidak sesuai seperti yang saya minta, namun setelah diberi tonik dan vitamin, lumayanlaah,,,, rambut jadi lebih halus. Untuk kedepannya, salon ini tidak akan saya kunjungi lagi. Tapi, penilaian setiap orang kan relatif y, mungkin aja waktu saya ke sana, kebetulan aja keadaannya lagi begitu. Oya, biaya yang harus saya bayar adalah Rp 25,000,-. Terima kasih sudah membaca :). Dan satu lagi, disana area bebas pria, yaiyalah namanya juga salon muslimah.

Senin, September 29, 2014

SPS (Sindrom Pra Skripsi)


Kira-kira sebulan sebelum pengajuan judul skripsi,,

Setiap hari yang Ku lalui terasa amat berbeda sekali. Semua serba salah. Ada saja yang jadi faktor masalah. Mau makan, gak selera. Mau tidur, entar kebablasan. Mau nge-game, kalah terus, gak fokus. Mau jalan-jalan, harus hemat uang buat kebutuhan mendadak nanti pas skripsian. Hal-hal yang selalu aku lakuin buat ngilangin stress, sekarang udah gak mempan.

Misalnya, nonton filem. Biasanya, kalo lagi suntuk atau ngantuk pas ngerjain tugas, solusiku ya nonton filem. Enaknya sich,,, filem yang action gitu, biar adrenalin kita ikut terpacu dan ngantuknya pun hilang. Tapi, semester ini, tepatnya sebulan sebelum skripsi, nonton filem gituan malah bikin ngantuk. Apalagi filem melodrama, ntra malah filem yang nonton kita. Jadi, ketika mata udah mulai sering "berkedip", aku langsung menarik selimut dan menutup mata. Tidur.

Selain nonton filem, aku juga sering jalan-jalan. Sekedar window shopping ke MATOS (Malang Town Square) juga kuanggap jalan-jalan. Ya, window shopping, yang aku artiin belanja mata. Jadi, cuma lihat-lihat doang. Hehehe,,, Paling beli Rotiboy atau Air Mata Kucing rasa Kiwi lah buat ngganjel perut plus ngilangin haus. Kira-kira 2 jam kemudian, aku pun pulang dalam keadaan fresh. Ritual ini cukup ampuh untuk refreshing. Khusus sekarang ini, rasanya gak ada waktu buat ke MATOS. Sebenerya sich, bukan gak da waktu, waktu mah buuuanyaak. Tapi, gak mood. Efek HEMAT. Khawatir kalo tiba-tiba ni tangan khilaf terus ambil sesuatu yang gak seharusnya, lalu dengan tidak sadar mengeluarkan uang dari dompet. Kan bahaya,,,

Terkadang, aku juga melakukan ritual wisata kuliner untuk mengurangi beban pikiran. Hunting-hunting warung atau rumah makan yang menunya unik, enak dan murah. Kalo bisa, banyak. Walaupun untuk kriteria yang terakhir biasanya tidak dipermasalahkan, karena aku kan cewek. Jadi, makannya juga gak porsi jumbo. Entah kenapa, di semester ini, aku belum sekali pun melaksanakan ritual wajib yang satu ini. Ada saja halangannya. Pas uang ada, waktu ada, partner wisata kulinerku lagi gak bisa. Atau pas aku dan partner lagi free, kantong kita kosong. Pokoknya, ada saja yang menghambat.

Dan semua permasalahan kecil yang menumpuk itu penyebab paling besarnya hanya satu. JUDUL SKRIPSI. Ide untuk judul sudah ada, tapi konsepnya belum jelas. Akibat ketidakjelasan konsep penelitian, maka konsultasi ke dosen wali selalu ditunda. Konsep sudah jelas, pas nyoba-nyoba cari referensi, aduuuh,,,,, sulit sekali ketemunya. Tiba-tiba jadi kepikiran mau ganti judul. Padahal, bikin konsep judul yang pertama juga udah puyeng. Hadeecccch,,,,,,

Mungkinkah aku sedang mengalami SPS yaitu SINDROM PRA SKRIPSI???

Kamis, September 25, 2014

Defending Yours (Actually It About Me n' My HW)


“Defending what you have is better than chasing uncertain thing”

Mempertahankan yang ada itu lebih baik, daripada mengejar yang belum pasti

Wiseword itu tepat sasaran sekali jika ditujukan kepada aku sekarang ini. Keinginanku untuk membangun dan mengembangkan Hubbul Wathan (HW) entah kenapa tiba-tiba saja muncul kemarin lusa. Saat itu, aku baru saja bertemu dengan salah seorang alumni Asrama Bahasa Arab Hubbul Wathan yang didirikan oleh Buya lebih dari 25 tahun yang lalu. Ya, bahkan Hubbul Wathan sendiri umurnya sudah lebih dari umur abang dan kedua kakakku. Karena HW sudah mulai didirikan oleh Buya sejak ia belum menikah dengan Ummi.

Menurut cerita Ummi, HW dulunya bukan cuma tempat untuk mempelajari dan mendalami bahasa arab, tetapi juga bahasa inggris. Selain itu, HW juga sempat membuka kursus pengetikan. Pernah ketika HW berada di masa keemasannya, untuk tinggal di sana, setiap calon penghuni asrama harus melewati ujian masuk. Jika lolos, barulah mereka berhak untuk tinggal dan mendalami bahasa arab di sana. Tapi, itu dulu.

Kini, HW dikelola oleh Ummi dan beberapa orang kepercayaannya termasuk di antaranya adalah Ustazah Syarifah dan Ukhti Leli yang sudah banyak sekali membantu HW sejak Buya masih ada sampai sekarang. Sebenarnya, masih banyak lagi ustaz dan ustzah yang telah membantu jalannya Asrama Bahasa Arab ini. Tetapi, keterbatasan pengetahuan membuatku terpaksa tidak menuliskan nama-nama mereka disini. Hanya sebuah ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan. HW yang sekarang di mataku sudah jauh berbeda dengan HW dulu yang diceritakan Ummi.

Sejujurnya, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku untuk menawarkan diri membantu mengelola HW. Apalagi, sejak aku bersekolah di luar kota Medan. Ditambah, aku melanjutkan kuliah pun tidak di Medan. Aku juga tidak begitu menyukai Bahasa Arab. Bagiku, jika aku mau ikut membantu mengelola maka aku seharusnya pintar berbahasa Arab, baik secara teori maupun praktek. Oleh karena itu, aku yang tidak begitu bisa menggunakan bahasa arab bukanlah orang yang cocok untuk ikut membantu. Tapi, itu dulu.

Kini, aku merasakan sebuah perasaan memiliki terhadap HW. Rasa itu membangunkan semangatku untuk menjaga apa yang memang sudah menjadi milikku. Kewajibanku adalah mempertahankan eksistensi HW di dunia bahasa Arab di kota Medan. Dan, eksistensi itu ingin sekali aku luaskan ke seluruh Indonesia. Minimal, se provinsi Sumatera Utara atau se-pulau Sumatera. Aku yakin hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil dan bukan pula mudah digapai.

Sekarang, aku hanya harus fokus menyelesaikan urusan di Malang, mempersiapkan diri dengan segala kemampuanku untuk kembali ke kota kelahiranku dan melanjutkan cita-cita Buya. Mungkin, aku sekarang sudah sedikit melupakan cita-cita Buya kepadaku agar menjadi seorang Profesor di bidang Ushul Fiqh. Namun, aku yakin Buya takkan pernah kecewa jika impian itu ku alihkan untuk membangun HW menjadi lebih besar. Dilengkapi dengan Kursus Bahasa Inggris dan Rumah Tahfidz. Tentunya, banyak sekali yang harus aku pelajari sebagai persiapan. Jika Allah mengizinkan, aku pun akan tetap berusaha untuk merealisasikan impianku sendiri. Lagian, bermimpi masih gratis kan?


Wednesday, September 24, 2014