Sabtu, Maret 12, 2016

Kedung Tumpang, Kolam Alami Di Balik Gunung Karang



Kedung Tumpang. Pantai ini terletak di Desa Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pantai dengan keindahan kolam alami yang menggoda mata serta tubuh untuk segera terjun ke dalamnya, (padahal, saya gak bisa berenang). Hehehe,,, Untuk menikmati semua panorama cantik ini, perjalanan yang harus ditempuh bisa dibilang sulit. Bagi para pendaki gunung atau petualang, medan yang harus dilalui agar bisa sampai ke Kedung Tumpang, biasa saja. SImpelnya, langsung saja kita mulai. Check it out..


Saya berangkat pada awal Januari yang lalu (sudah agak lama ya,,) bersama 3 orang lagi teman. Dari Blitar, kami mengendarai motor menuju kabupaten Tulungagung yang terletak bersebelahan dengan Blitar. Jarak perjalanan sekitar 2 jam sebelum sampai ke desa yang dimaksud yaitu desa Pucanglaban. Untuk sekedar menambah pengetahuan, kata teman yang asli dari Tulungagung, kampung halamannya ini memiliki jumlah pulau paling banyak se-Jawa (mungkin benar, mungkin juga salah ya, info ini tidak akurat, hehe). Di kawasan Pantai Kedung Tumpang saja, yang paling dekat ada Pantai Lumbung dan Pantai Sanggar yang tak kalah indahnya dengan Kedung Tumpang. Namun, menurut saya, tetap Kedung Tumpang yang paling unik. Kecuali, jika pengen belanja udang, maka kamu bisa menuju Pantai Lumbung. Sementara, bagi cewek-cewek yang ke Pantai cuma buat foto-foto cantik serta takut kotor dan terluka, sebaiknya mampir saja ke Pantai Sanggar ya sebelum menyesal.

Lanjut cerita, ketika kami sampai di sebuah persimpangan dimana ada papan bertuliskan "Menuju Pantai Kedung Tumpang" (belok kanan), sementara jika lurus menuju ke Pantai Sanggar dan Pantai Lumbung, kami berempat ragu untuk menarik gas sepeda motor demi melanjutkan perjalanan. Bagaimana tidak, pemandangan yang tersaji adalah hutan-hutan kecil dengan pohon kayu yang batangnya mirip pohon karet seperti jarang dilalui orang-orang. Berdasarkan kata hati, akhirnya kami tetap nekat melanjutkan perjalanan. Sepeda motor terus kami tarik gasnya sampai ketemu dengan sebuah jalan tanah yang kecil dan sedikit ekstrim. Sepertinya, motor matic seperti yang kami kendarai kurang cocok dinaiki di daerah tersebut TEtapi, kami tak peduli, apalagi setelah melihat ada sebuah lagi sepeda motor yang berada di jalan tanah yang sama. Semangat kami sedikit meningkat.


Setelah sekitar setengah jam jalan tanah nan kecil itu kami susuri, setelah bertemu dengan beberapa kelompok yang pastinya memiliki tujuan yang sama, kami pun sampai di tempat parkiran. Ternyata, banyak sekali sepeda-sepeda motor yang sudah terparkir tenang di bawah sana (kami masih di atas bukit).Perasaan pun lega karena kami tidak salah jalan. Setelah memarkir sepeda motor, kami pun mencari "pintu" menuju ke Pantai Kedung Tumpang. Terdapat papan tanda sederhana yang menunjuk ke bawah jika ingin ke Pantai. Lalu langsung saja kami berjalan tanpa memikirkan bahwa jalan yang kami lalui rupanya masih panjang, man-teman. Sambil berjalan, ku lihat ada beberapa warung penjual berbagai minuman seperti air mineral, sirup bahkan degan. Perjalanan, kami lanjutkan tanpa khawatir kehausan. Untungnya saya dari rumah pakai celana, walaupn kostum atasan dan tas saya kurang sesuai, untuk melewati tanah-tanah berpasir yang curam, aku tidak terlalu kesulitan.

Kami terus berajalan, sambil sesekali jatuh (khusus aku dan 1 orang teman) atau terpeleset. Semasa berjalan, kami berpapasan dengan pengunjung yang berbalik arah karena mau pulang. Sebagian ada yang bajunya basah kuyup (entah karena mandi di kolam atau mandi keringat), ada juga yang masih kering. Salah seorang pria yang bajunya basah kuyup berpesan, kalau sudah sampai, jangan nggak mandi, "eman" katanya. Waktu dia bilang begitu, saya kira posisi perairannya sama layaknya pantai-pantai lain yang pernah saya kunjungi. Ternyata, setelah setegah jam kurang lebih kami dengan sabar menuyusuri jalan setapak yang ekstrim, kami pun tiba di gunung karang. Awalnya saya agak sedikit kecewa, cuma gini doang,, mana airnya??? Rupanya.....Subhanallah,, tidak ada sedikitpun penyesalan saya bersusah payah ke sana. Kita sambung lain kali lagi ya, udah ngantuk banget ni...besok masih harus ngantor pula.Stay Tune ya Dear,,, Assalamualaikum Good Night.

Selasa, Desember 29, 2015

Ujian Akhir Semester (Pengalaman Nyantri di Jawa Part II)



Tanggal 26 Desember 2015 kemarin adalah hari terakhir kami santri PPTQ As-Saadah melaksanakan UAS. Ujian Akhir Semester disini sebenarnya tidak jauh beda dengan kegiatan sehari-hari. Hanya jumlah huruf, ayat dan halaman dari Al-Quran yang telah dihafal saja yang menjadi pembeda. JIka setiap hari biasanya tidak ada tuntutan maupun batas setoran, maka pada saat ujian seluruh santri wajib menyetorkan hafalannya dalam waktu 7 hari.Untuk semester ini UAS dimulai pada tanggal 20 Desember dan berakhir pada 26 Desember yang lalu. Ada yang sudah hafal 2 juz, 10 juz, 19 juz dan 25 juz. Semakin banyak jumlah hafalan yang dimiliki, maka tuntutan setoran per hari makin tinggi sedang batas waktu dirasa makin sedikit. Dan hal ini benar-benar membuat lelah baik fisik maupun psikologis. Selama 23 tahun saya hidup, memang baru di sini saya menemukan sistem ujian yang seperti ini. Sebagaimana fitrahnya setiap sesuatu, pasti ada sisi negatif dan positifnya. UAS ini pada hakikatnya bertujuan sangat baik, namun bagi santri UAS bagai momok yang awalnya ku anggap biasa.

Ketika mendengar cerita dari santri-santri lainnya tentang mekanisme ujian ini, dimana setoran disimak oleh pentasmi' dari luar pondok dan dinilai. Dari total 100 jumlah nilai, 50 untuk tahfiz, 25 tajwid, 25 adab. Dan nilai ini nantinya akan dituliskan di rapor. Mendengar adanya "formalitas" berupa jumlah nilai dan rapor, aku tidak menyangka hal ini pada akhirnya menyebabkan sebuah beban secara psikologis. Ku pikir, "ahh terserah mau nilai berapa, biarin,,". Target ku hanya menyelesaikan setoran tepat waktu. Tetapi, ketika hari H tiba, aku salah. UAS ini bukan cuma menguji hafalan, tetapi menguji semua aspek kualitas dan kuantitas kami. Mulai dari kualitas hafalan, kualitas dan kuantitas kesabaran serta ikhlas. Bahkan juga kualitas rendah hati dalam diri (ini khusus aku). Kualitas kesabaran diuji saat kami antri menunggu giliran setor, saat kami disalahkan ketika sedang setoran padahal kesalahan tersebut bersumber dari pentasmi' yang tidak teliti (namanya juga manusia). Bukan hal besar sebenarnya, tetapi seorang penghafal yang ketika sedang asyik membaca hafalannya dan tiba-tiba terdengar kata "SALAH !" dari pentasmi' maka seketika itu juga konsentrasinya buyar lalu menyebabkan ketidaklancaran. Bagi saya, hal ini 80% adalah kesalahan santri sendiri yang mungkin tidak rajin, tidak teliti atau sungguh-sungguh dalam menghafal termasuk saya sendiri.

Pada akhir UAS, Ummah biasanya mengumpulkan seluruh santri untuk menyampaikan sedikit wejangan dan penyemangat. Jika ada santri yang masih belum bisa meyelesaikan setoran untuk semua hafalan yang dimiliki dalam batas waktu yang telah ditentukan, maka ia tetap wajib menyetorkan setelah batas waktu namun nilai tidak kan dicantumkan di rapor. Menurut penilaian saya sendiri, hasil akhir dari berbagai sistem ujian di PPTQ As-Saadah, baik, ujian perjuz, ujian majlisan sekali duduk, maupun ujian akhir semester seperti ini dimana semuanya bertujuan untuk menjaga hafalan para santri bisa dikatakan berhasil walaupun tidak 100%. Kenapa berhasil, berdasarkan apa yang saya lihat dan saya bandingkan sendiri, insyaallah hafalan santri-santri PPTQ As-Saadah kualitas bisa diberi nilai 60-90. Insyaallah,,,,

Kamis, Desember 17, 2015

Pengalaman 'Nyantri' Di Jawa

Sampai sekarang ini sudah hampir empat bulan saya menjadi santri di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Quran As-Saadah, Malang. Pondok ini memang agak jauh dari bayangan saya tentang pondok-pondok di Jawa selama ini. Mungkin karena pengaruh pengasuhnya yang masih muda, serta kondisi santri yang notabene mahasiswa dan lokasi pondok yang dekat kota. Dulu, pikir saya jika sudah mondok bakal susah mau kemana-mana, ya kayak waktu masih sekolah dulu. Ternyata tidak sama sekali, asal jujur dan tujuannya benar. Ummah (panggilan untuk pengasuh) orangnya sangat toleransi sekali.

Dalam urusan setoran hafalan Al-Quran, Ummah tidak mentarget harus berapa halaman per harinya. Semampunya, karena menghafal Quran itu bukan untuk dijadikan beban. Tidak ada batasan umur.Yang paling penting adalah menjaga apa yang sudah diperoleh. Untuk mendukung prinsip pentingnya menjaga hafalan, maka sistem yang digunakan di PPTQ As-Saadah juga sudah sangat bagus.

Seluruh santri wajib menjalani proses ujian per juz. Ujian per juz dilaksanakan setiap akhir minggu, yaitu Jumat dan Sabtu. Seluruh santri yang sudah menyelesaikan setoran juz tidak boleh lanjut ke juz berikutnya jika belum ujian. Santri yang menjadi peserta ujian per juz terlebih dulu membaca satu juz dan disimak oleh santri lain, lalu kemudian akan disoal (istilahnya : di bade'), lalu dikomentari mengenai tajwid, atau waqaf dan sebagainya. Bagi snatri yang sudah memiliki simpanan hafalan mulai 5 juz dan kelipatannya maka diwajibkan untuk majlis-an (membaca semua juz yang sudah diperoleh sekali duduk). Misalnya, ia sudah hafal 6 juz, maka ia wajib membaca 5 juz dalam sekali duduk. Jika memiliki hafalan 13 juz, maka yang wajib dibaca adalah 10 juz, begitu seterusnya. Untuk santri yang ingin mendapat sanad (sanad adalah istilah untuk kesinambungan guru-guru untuk menjamin bahwa hafalannya shahih dan sudah disetorkan sesuai guru masing-masing), maka ia wajib membaca seluruh 30 juz hafalnnya dalam sekali duduk (berhenti hanya pada saat sholat, dan makan atau istirahat sebentar). Proses mendapatkan sanad ini menurut saya lumayan berat. Namun, dengan usaha, kerja keras derta doa kepada Allah, maka akan dimudahkan karena Allah sendiri dalam firmanNya menjamin bahwa Dia yang menurunkan Al_Quran maka Dia juga lah yang menjagaNya. Amienn,,,, semoga Allah memberikan kemudahan kepada para Hammilul Quran untuk menjaga kalam suciNya.

Baiklah, untuk sistem sudah saya ceritakan panjang lebar. Mengenai fasilitas, disini sudah melebihi ekspetasi saya. Bagaimana tidak, keluarga ndalem sangat menghormati para penghafal quran sehingga santri-santrinya ini selalu saja diberikan berbagai macam kemudahan seperti wastafel, gedung baru karena gedung yang ada ternyata kurang luas untuk menampung santri. Bahkan, Ummi (panggilan untuk ibu mertua Ummah) berencana untuk memindahkan satu dari dua kulkas yang ada di rumah ndalem ke dapur pondok karena cuaca di Kota Malang sekarang sudah mulai panas. Semoha Ummi, Abah dan seluruh keluarga ndalem dimurahkan rezekinya serta selalu sehat. Amienn...

Mungkin cukup segitu aja dulu ya bagi-bagi pengalamannya. Mau tau lebih lanjut bisa add FB, Farahdina Budiman (inbox dulu tapi karena takutnya gak bakal dikonfir),,hehe
Nie dia santri-santri cantik nan sholehah (amienn) PPTQ As-Saadah :


Minggu, Agustus 30, 2015

Kangean,, Sebuah Pulau Yang Bikin Kangen (Mamburid Part)



Bukan cuma laut lepas, Pantai Pasir Putih juga memiliki sisi misterius dengan bebatuan karang besar dan gua gelapnya. Foto ini belum saya koreksi pencahayannya, jadi kelihatan sangat gelap. Agak sedikit seram juga sich foto di situ, khawatir kali aja ada yang ikut foto. Hehehe,, oya, di sekitaran sini saya juga melihat sejenis bintang laut yang lain. Memiliki lima sisi juga tapi setiap sisinya agak panjang dan lembut mirip-mirip lintah gitu, warna hitam. Sayangnya, gak sempat kefoto, keburu seram. Hihihi....

Baiklah, karena hari sudah semakin sore, dan agak mendung, kami pun mencukupi penjelajahan pantai hari itu dan pulang. Dalam pikiran saya, hidangan apa lagi yang bakal saya cicipi malam ini. Hahahaha.... Terima Kasih Oni, dan Aebok.

Kira-kira beberapa hari sebelum kembali ke Malang, kami (saya, Oni, Aebok, Lek Tung Tung dll) beramai-ramai merencanakan perjalanan ke Pulau Mamburid. Dari pelabuhan Pulau Kangean, hanya membutuhkan waktu kurleb lima menit dengan menaiki speedboat (mirip gitu tapi agak gede-an, muat motor juga) untuk sampai ke Mamburid. Ternyata, bukan cuma saya yang excited ke sana, Oni juga walaupun dia asli orang Kangean. Mamburid ini bisa dibilang lokasi wisata juga lho. Sangat terkenal dengan buah sukunnya yang katanya berbeda dengan buah sukun di tempat lain. Buah sukun di sini terkenal manis.

Ketika menunggu giliran menaiki kapal untuk menyebrang, saya sempatkan untuk melihat-lihat karang yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas jembatan. Bukan cuma karang, bahkan saya juga melihat ubur-ubur, segerombolan ikan-ikan kecil yang kayak di Finding Nemo itu.. duuuh,, indahnya. Sayangnya, karena kamera saya yang kualitasnya standar saja, foto yang lumayan bagus cuma foto karangnya. Batu karang ini berbentuk seperti bunga mawar, berwarna merah pula. Tapi, ya itu tadi, karena kualitas kameranya biasa saja, jadi hasil fotonya juga biasa saja.


Nah, kelihatan kan bentuk bunganya. Pokoknya, bagus daaah.... Tapi, lokasi ini tidak bisa dibuat arena snorkeling ya, soalnya banyak kapal baik besar atau kecil yang pada parkir. Nah, kalau mau mancing, baru bisa. Setelah mendapat giliran menaiki kapal, per orang kami diharuskan membayar Rp 7.000, kalau bawa motor Rp 10.000 seingat saya. Memang agak sesak ya, karena ada yang bawa motor, bawa ikan, bawa.. duuh, macam-macam dibawa. Kapal itu ibarat angkot, bayangin aja gimana kalau angkot penuh, ditambah bau-bau keringatlah, bensinlah, ikanlah. Untung, gak sampe mabok karena perjalanan cuma sebentar, hehe.

Sesampainya kami di pantai Pulau Mamburid, terlihat air laut dengan warna birunya berkilauan terkena sinar matahari. Ahh,, sungguh indah. Pinggiran pantai di sisi sebelah ini memang tidak bisa dibilang bersih. Maklum, itu kan lebih mirip ‘pelabuhan’. Ada yang bilang di pulau ini tidak ada jalan aspal. Yaiyalah, buat apa diaspalin, wong diameternya aja cuma 1 km, dari ujung sini, jalan dikit udah kelihatan tuh ujung pulau sebelah sana. Walaupun tidak ada jalan aspal, disini masih banyak yang memiliki sepeda motor. Aliran listrik dan sinyal juga sudah ada. Sinyalnya malahan lebih baik dari Pulau Kangean sendiri, yang dikenal Pulau terbesar di dalam gugusan Kepulauan Kangean.


Kami lalu menyusuri jalan setapak dari pinggiran pantai menuju “pusat” pulau. Sepanjang jalan, banyak sekali pohon-pohon sukun yang setinggi pohon durian. Saya belum pernah melihat pohon sukun yang setinggi itu. Buahnya kebanyakan berbentuk lonjong, dengan ukuran agak kecil. Aebok, Lek Tung Tung dan emak-emak yang lain, mencari karung untuk mengambil buah-buah sukun yang berjatuhan. Kapan lagi katanya bisa makan sukun Mamburid, gratis pula. Aku hanya senyum geleng-geleng kepala (maklum,,aku sich orangnya rada jaim gitu).

Setelah berjalan santai sekitar 15-20 menit, kami sampai di sebuah rumah penduduk untuk menunaikan sholat zuhur. Di samping rumah itu, ada pula sebuah rumah lain yang kelihatan lebih tradisional dengan gubuk di sampingnya. Lokasi tepat untuk untuk bersantai pada sore hari sambil melihat pemandangan laut biru luas. Ahh,, indahnya. Sebelum sholat zuhur, kami rujakan dulu. Nikmat sekali. Jika anda makan, tentu saja butuh minum kan? Oleh karena itu, Lek Tung Tung lalu membeli sekardus air mineral gelasan dengan harga Rp 30.000. Lumayan mahal ya.
Hasil analisis saya mengatakan, mayoritas penduduk di sini ramah dan menyadari akan keunikan pulau mereka. Buktinya, di pertengahan jalan sebelum tiba disini, kami semua kecape-an dan langsung saja menuju ke teras rumah yang terdekat. Tanpa diminta, tuan rumah membuka pintu dan membentangkan kami sehelai tikar, padahal kami tidak meminta dan sama sekali tidak saling kenal. Bukti berikutnya, tuan rumah yang ada gubuknya dengan baik hati meminjamkan kami piring, pisau, baskom saat kami mau rujakan tadi. Usai rujakan, kami tidak perlu mencuci kembali peralatan makan tersebut.

Hasil analisis saya mengatakan, mayoritas penduduk di sini ramah dan menyadari akan keunikan pulau mereka. Buktinya, di pertengahan jalan sebelum tiba disini, kami semua kecape-an dan langsung saja menuju ke teras rumah yang terdekat. Tanpa diminta, tuan rumah membuka pintu dan membentangkan kami sehelai tikar, padahal kami tidak meminta dan sama sekali tidak saling kenal. Bukti berikutnya, tuan rumah yang ada gubuknya dengan baik hati meminjamkan kami piring, pisau, baskom saat kami mau rujakan tadi. Usai rujakan, kami tidak perlu mencuci kembali peralatan makan tersebut.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Matahari bersinar terang dan garang. Air laut yang biru makin bersinar diterpa cahaya matahari, kelihatan berkilauan. Antara biru dan putih. Subhanallah,, Oleh karena itu, kami pun masuk ke dalam rumah salah seorang penduduk yang katanya Oni saudara jauh Ko Empang (tetangga Oni). Kami semua menunaikan solat disana secara bergantian. Kamar mandinya berada di luar rumah, ciri khas wilayah pedesaan. Terdapat sumur yang bisa digunakan bersama dan toilet khusus buang hajat. Saya lalu menuju ke toilet tersebut untuk tiiit,,, tapi ternyata tidak ada keran dan bak kecil di samping kakus pun kosong. Artinya terpaksa saya menimba sendiri dari sumur. Ahhh,, sudah lama sekali sejak terkahir kali saya menimba air di sumur di kampung ayah di Kutacane, Aceh Tenggara, karena hampir 4 tahun tidak pernah pulang kampung.

Tuan rumah sedang menghidangkan makan siang ketika saya keluar kamar seusai sholat Zuhur. Menunya tidak bervariasi tapi cukup enak. Ikan bakar sambal kecap dan nasi hangat. Awalnya, saya menyangka, ahh pasti rasanya sama seperti ikan bakar lainnya, jadi saya hanya mengambil sedikit nasi dan sepotong ikan karena memang sedikit malu dan ikan bakar bukan termasuk makanan favorit saya. Ternyata,, akibat keenakan ikan tersebut, rasa malu saya pun hilang dan mengakibatkan kuantitas tulang ikan tongkol bakar di dalam piring pun terus meningkat. Hehehe. Kata Aebok, Ikan tongkol di sini lebih enak, berbeda dengan tongkol di Aceh yang keras hingga sering disebut ikan kayu. Ibu Tuan Rumah menambahkan kalau kami bilang dari beberapa hari mau jalan-jalan pasti sudah ditangkapkan ikan tenggiri, tapi karena mendadak datang, yang ada hanya ikan tongkol. Ikan tongkol saja sudah enak begini, apalagi ikan tenggiri ya, pikir saya.


Kami semua melanjutkan makan siang dengan nikmat sekali sambil ngobrol panjang. Mereka terheran-heran dengan saya yang malah menghabiskan liburan di pulau kecil, bukan pergi ke kota-kota besar. Hehe, yah saya sich mumpung masih di ujungnya Jawa, kalau sudah pulang ke Medan, lokasi tujuan liburan saya sudah berbeda lagi. Maklum, saya senang melihat daerah-daerah baru. Kami juga menyempatkan untuk mengambil foto buat kenang-kenangan, biar saya gak lupa katanya.


Sekitar jam 4 sorean, setelah puas “melahap” ikan tongkol bakar, dilanjutkan dengan tidur-tiduran sembari menunggu bahang matahari sedikit mereda, kami pun pamit pulang. Untuk menuju jalan pulang, kami harus melalui jalan setapak yang sama seperti tadi. Tetapi, karena cahaya yang sudah meredup dan berangin, kami tidak terasa capek. Ketika sampai di “pelabuhan” tempat menunggu kapal, Aebok membelikan kami semua es krim tradisonal seribuan. Tidak lama, kapal datang dan kami pun kembali ke Kangean lagi, kembali ke rumah masing-masing. Sungguh sebuah perjalanan yang berharga.



Senin, Juni 15, 2015

Kangean,, Sebuah Pulau Yang Bikin Kangen (Part II)

Masih ingat dengan trasi istimewa dari Kangean pada cerita saya sebelumnya???

Ini dia penampakannya,,

Hal tak terlupakan yang kedua adalah laut Kangean dan segala keindahannya. Keindahan laut Kangean ini pertama kali saya buktikan sewaktu diajak ke Cilegung. Sebelumnya, saya sempat nanya-nanya sama Mbah Google Pantai indah yang terdapat di Kangean. Menurut Mbah Google, ada pantai di Kangean yang indahnya mengalahkan Gili Terawangan namun masih belum terjamah oleh wisatawan kebanyakan karena jarak tempuhnya yang sulit. Sayangnya, saya tidak berkesempatan ke sana. Kembali ke Cilegung. Cilegung ibarat kolam renang alami bagi masyarakat Pulau Kangean. Pasalnya, di Cilegung ada sebuah kolam yang airnya berwarna biru kehijauan karena berasal dari laut. Air ini juga mengalir langsung ke laut tapi ketinggiannya tetap. Tiap hujung minggu, Cilegung sering dikunjungi warga untuk sekedar berenang atau mencuci motor. Karena ramainya warga yang berkunjung, banyak pedagang cemilan atau mainan yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengais rezeki.

Hal lain lagi yang membuat saya berdecak kagum adalah berbagai biota laut yang terdapat di pinggiran laut Cilegung. Sampai-sampai saya ingin sekali mengabadikannya tapi sayang keburu kembali ke Malang. Biota yang saya maksud tersebut adalah sejenis Kepiting kecil yang memiliki bentuk tubuh sangat unik (menurut saya sich secara kan dari kecil tinggal di kota). Kepiting ini hanya memiliki satu jepitan dan warnanya tidak sama dengan warna anggota tubuh lainnya. Warna tubuhnya hitam tetapi jepitnya berwarna oren. Awalnya, saya berpikir koq kepiting ini kayaknya bawa pin ya warna oren dan ukurannya seperti tidak sesuai dengan tubuhnya. Kuat banget ya dia. Kemudian, kepiting dengan jenis yang sama namun ukuran yang berbeda mencoba mencuri perhatian saya dengan lewat di samping saya. Tanpa saya sadari, ada berpuluh kepiting yang sedang “bermain-main” di sekitar saya. Mungkin, saya disangka batu karena tidak bergerak. Setelah saya perhatikan, ternyata kepiting itu hanya memiliki satu jepit yang berbeda warna dengan tubuhnya. Subhanallah...

Selain biota, Cilegung juga memiliki keistimewaan yang lain. Terdapat bebatuan kecil di pinggiran laut yang terlihat seperti sungai dengan aliran air jenih yang menuju ke laut besar. Laut besar dan bebatuan tersebut jaraknya lumayan jauh dan ternyata sangat dangkal sekali. Bahkan dalam jarak 100 meter dari pinggir laut, kedalamannya hanya dibawah lutut orang dewasa. Saya hanya bisa terus-terusan berdecak kagum.
Selama di Kangean saya juga pergi ke pinggiran pantai yang jaraknya lumayan dekat dengan pelabuhan. Ada yang bilang namanya Pantai Pasir Putih. Ada pula yang bilang Pantai Pasir Putih yang sesungguhnya sudah hilang ditelan zaman. Pantai tersebut memang tidak sepanjang Pantai Ngliyep di Malang atau seluas mata memandang seperti pantai di balik tebing, Aceh Selatan. Tetapi, pantai ini indah dan bersih sekali. Letaknya tersembunyi di antara bebatuan besar dan berhadapan langsung dengan Pulau Mamburid.


Foto di atas hanya lah sebagian dari bukti keindahan Pantai Pasir Putih. Sambi menikmati angin pantai, kami rujakan dengan mangga dari pohon sendiri dicocol Petis istimewa dari Sumenep yang berbeda dengan petis kebanyakan. Petis ini sangat “limited edition”. Kenapa limited edition, saya sendiri kurang paham. Satu toples kaca kecil harganya kalau tidak salah Rp 25.000. Padahal, petis-petis lain harganya hanya sekitar Rp10.000. Itupun yang sudah beredar luas di Malang. Kalau di tempat aslinya tentu lebih murah. FYI, petis madura berbeda dengan petis Jawa, karena rasanya asin dan terbuat dari ikan. Awal mula saya mengenal petis Madura, saya langsung jatuh cinta. Mau makan nasi, makan buah atau kerupuk, petis Madura tidak pernah ketinggalan. Kalau di Palembang, mungkin ibarat Cuko kali ya. Mirip-mirip gitulah, walaupun beda. Hehehe. Itu tu, toples kaca kecil yang dekat kaki itu yang seharga Rp 25.000.

Kembali lagi ke Pantai Pasir Putih, disini saya pertama kali melihat Bintang Laut. Iya, si Patrick itu lho. Rasanya, excited banget. Menurut Ica, sekarang sudah agak jarang. Kalau dulu buanyaakkk banget. Ternyata bintang laut itu (khusus yang jenis ini, karena bintang laut pasti ada banyak jenis) kulitnya keras banget. Di balik badannya, terdapat lubang kecil mungkin fungsinya mirip lubang hidung manusia kali ya. Karena dari situ sering keluar air.


Semakin siang, posisi si Bintang Laut makin ke tengah. Tengah lautan maksudnya, makin jauh dari bibir pantai. Oya, ada lagi yang menarik, Seperti di Cilegung, pinggiran pantai ini juga dangkal sekali. Waktu kami di sana, ada dua orang pemuda asli yang menawari kami menaiki perahunya menuju Pulau Mamburid, tapi tentu saja kami tolak. Setelah itu, dua pemuda tersebut meningalkan kami ddan mendayung perahunya. Waaupun dua pemuda itu sudah mendayung perahunya lumayan jauh, bunyi “kletak-kletuk” tanda kayu pendayung dan batu karang bertabrakan masih terdengar. Bukankah itu tandanya dasar pantai ini dangkal? Hehehe (ini sich cuma kesimpulan saya). Selanjutnya,, saya akan ceritakan pengalaman saya ke Pulau Mamburid,,PUlau yang diameternya cuma 1 kilometer,, kecil beud,,, To be continued ya,,hehehe

Menentukan Skala Prioritas

Ketika dalam hidupmu kelihatannya terlalu banyak hal untuk ditangani, ketika 24 jam sehari tidaklah mencukupi, ingatlah tentang inspirasi stoples mayonaise dan kopi ini.

Seorang profesor berdiri dalam kelas filosofinyadengan bebrapa benda di hadapannya. Ketika kelas dimulai, tanpa banyak perkataan, ia mengambil sebuah toples yang besar dan kosong dan mulai mengisi stoples itu dengan bola golf. Dia lalu menanyakan pada para siswa apakah stoplesnya sudah penuh. Mereka setuju bahwa wadah itu telah penuh. Profesor lalu mengambil kotak kerikil dan menuangi kerikil ke dalam stoples yang sama. Dia menggoyang stoples dengan perlahan. Kerikil turun mengisi tempat tersisa antara bola golf dan stoples. Dia lalu bertanya kembali pada para siswa apakah stoples tersebut sudah penuh. Para siswa setuju.

Profesor itu lalu mengambil sekotak pasirdan kembali menuangi pasir ke stoples yang ada. Tentu saja, pasir itu mengisi semua rongga yang ada. Profesor bertanya sekali lagi apkah stoples itu sudah penuh. Mahasiswa berkomentar dengan sepakat “ya”. Profesor lalu mengeluarkan dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangi seluruh isinya ke dalam stoples. Segera kopi tersebut mengisi ruang anara pasir dan stoples. Mahasiswa hanya bisa tertawa.

“Sekarang” kata profesor setelah tawa reda. “saya ingin kalian menyadari bahwa stoples ini melambangkan hidup kalian. Bola golf adalah hal yang penting , Tuhanmu, Keluarga, anak-anakmu, kesehatanmu, Teman-temanmu dan hal utamamu. Hal-hal yang jika semuanya hilang dan hanya itu yang tersisa, maka kehidupanmu masih tetap penuh. Kerikil adalah hal lainnya seperti pekerjaanmu, rumahmu, kenderaannmu. pAsir adalah segala sesuatu yang lain pula, tentunya hal yang lebih kecil.

Beri perhatian untuk hal yang bernilai kritis bagi kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Ambil waktu untuk memperhatikan kesehatanmu. Bawalah partnermu untuk makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki saluran pembuangan.”
Taruhlah bola golf terlebih dulu, hal yang benar-benar nyata. Susunlah priorotasmu. Sisanya hanyalah pasir. Satu mahasiswa mengangkat tangan dan menanyakan apa maksud dari kopi. Profesor itu tersenyum : “Saya senang kamu bertanya. Kopi menunjukkan bahwa betapa penuhnya kehidupanmu kelihatannya, selalu ada ruang untuk sepasang cangkir kopi bersama temanmu. “

-Diambil dari buku A-Z Psikologi (Zainul Anwar)-

Sabtu, Mei 09, 2015

Kangean, Sebuah Pulau yang Bikin Kangen (Part I)


Ceritanya, ini belated travel diary. Hehehe.. aku kesana udah dari Desember kemarin. Ke Kangean Island maksud saya. Pulau ini terletak di Kepulauan Kangean, Madura, Jawa Timur. Mungkin masih banyak yang tidak familiar dengan nama pulau ini. Memang, aku maklum koq. Secara, Indonesia kan gede bingiiitzz.. Okelah, back to laptop. Nah, Di Kepulauan Kangean, Pulau Kangean adalah yang paling besar. Sedangkan pulau-pulau lain yang lebih kecil ada Pulau Mamburid, Pulau Raas dll.

Rute yang saya tempuh untuk menuju Pulau Kangean dari Malang bisa dibilang lumayan jauh. Bukan lumayan jauh tapi beneran jauh. Dari Malang, saya harus menaiki travel yang menuju ke Sumenep. Jarak antara Malang-Sumenep sekitar 8 jam. Desember kemarin, ongkosnya adalah 140rb (dapat makan siang). Karena menaiki travel, kami diantar sampai ke depan rumah saudara teman saya yang asli dari Kangean dan tinggal di Sumenep. Setelah beristirahat sebentar sambil mandi dan sholat, sekitar pukul 4 sore, kami berangkat menuju Pelabuhan Kalianget dengan menaiki mobil saudara Oni, teman saya. Sesampai di Kalianget, jam sudah menunjukkan pukul 5 kurang, awan pun mulai berubah warna menjadi kelabu tanda sebentar lagi waktu sholat maghrib tiba.

Usai membeli karcis seharga 75rb, saya dan Oni langsung memasuki kapal Sumekar. Begitu kaki saya memijak lantai kapal, bau-bau asap rokok bercampur bau bawang, ayam dan mungkin termasuk bau keringat penumpang serta sumber yang lain mulai menusuk hidung. Saya tidak pernah membayangkan suasana kapal yang saya naiki akan seperti itu. Sambil berjalan menuju ke tempat tidur (kasur), saya melihat beratus orang yang duduk di atas tikar di seluruh penjuru lantai kapal tersebut. Segala sisi tidak ada yang kosong, baik di lantai tengah, maupun lantai kosong yang berada di pinggiran kapal. Sebagian dari mereka, ada yang duduk di atas kursi, namun lebih banyak yang duduk di lantai entah karena tidak mau membeli kasur atau kehabisan kasur untuk tempat tidur. Kasur yang saya maksud adalah busa tipis yang disusun di atas ranjang-ranjang kecil dalam beberapa kamar khusus. Kasur atau tempat tidur ini bisa dibeli dengan harga 25rb, itupun jika anda memiliki kenalan orang dalam. Ranjang ini hanya setinggi pinggang atau dada orang dewasa. Ya, jadi, bagi penumpang yang mendapat ranjang bawah maka ia harus menunduk atau merangkak untuk mengistirahatkan tubuh di sana. Oya, di kapal ini juga barang bawaan menjadi tanggungjawab masing-masing. Tidak ada bagasi khusus.

Selain kasur, terdapat pula kamar VIP yang berisi 4 orang. Mengenai harganya, saya kurang tau. Yang pasti, biaya 75rb tadi hanya biaya menumpang saja tanpa ada fasilitas lain. Jika kehabisan kasur, penumpang biasanya membawa tikar atau membeli tikar kecil seukuran 1 – 2 orang seharga 2rb saja yang banyak dijual pedagang-pedagang asongan. Mereka ini lah yang saya lihat ketika awal masuk ke dalam kapal. Mereka ada yang membawa anak kecil, lalu karena suasana yang panas, pengap dan sesak, anaknya menangis. Ditambah dengan segala macam bau barang-barang bawaan dan asap rokok, suasana semakin tidak nyaman. Alhamdulillah sekali, untuk kesempatan yang pertama menaiki kapal, saya kebagian kasur. Itupun, saya berkata pada diri sendiri akan ke Kangean lagi kalau sudah ada jalan darat atau menaiki kapal cepat yang biayanya tentu saja berkali lipat dari kapal ini.

Ketika sudah duduk nyaman di atas kasur walaupun dalam keadaan gelap karena cahaya lampunya terhalang oleh ranjang tingkat atas, saya serasa ingin segera leha-leha, tapi tidak lama kemudian, azan maghrib berkumandang. Sebelum kapal bergerak, kami segera ke kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan sholat jama’ mahgrib dan isya’ di atas kasur karena musholla yang hanya berukuran 2m x 2m sudah penuh. Selesai sholat, kami merebahkan badan, mengobrol sambil mengemil ria menunggu kantuk menjemput ke Pulau Kapuk. Entah pukul berapa, kami berdua terlelap dan terjaga kembali ketika sudah sampai di Pelabuhan Pulau Kangean. Jam menunjukkan beberapa menit lagi tepat pukul 4 pagi. Laut begitu tenang malam itu sehingga saya tak merasakan kapan kapal mulai berlayar. Bahkan, kami terbangun oleh suara krasak-krusuk penumpang yang bersiap-siap untuk turun.

Sebagaimana penumpang yang lain, kami juga membereskan barang-barang, lalu turun. Di pelabuhan, kami sudah ditunggu oleh Lek yaitu salah seorang paman Oni. Transportasi yang tersedia di pelabuhan adalah angkot dan ojek. Lek yang mengendarai sebuah motor menyewakan sebuah ojek lagi untuk kami. Tetapi, motor si tukang ojek dikendarai oleh kami berdua. Oni yang menyetir. Sebaliknya, si Tukang ojek dibonceng oleh Lek. Padahal, sebenarnya saya juga tidak apa-apa dibonceng tukang ojek. Hehehe... Oya, mengenai angkot yang terdapat di Pulau Kangean tidak sama seperti di daerah-daerah lain. Angkot disini berwarna hitam dan bentuknya seperti mobil pickup, tetapi ada atap dan tempat duduknya. Pintu masuk yang terdapat di belakang juga tinggi sekali serta tidak ada tangganya.

Sepanjang perjalanan saya menikmati angin shubuh yang menampar manja pipi sambil melihat pemandangan di kiri dan kanan jalan yang notabene adalah hutan. Walaupun hutan, bukan tandanya disana jarang dilewati orang. Tapi, jalan ini adalah satu-satunya akses menuju pelabuhan. Kemudian, kami memasuki kawasan pemukiman, perumahan penduduk. Azan shubuh juga mulai terdengar di beberapa masjid yang letaknya berdekatan. Saling sahut-sahutan. Warga-warga yang berpeci dan sebagian bermukena putih kelihatan berjalan menuju masjid. Motor yang kami boncengi juga sengaja dikurangi kecepatannya oleh Oni agar tidak mengganggu. Di perumahan tersebut terdapat sebuah apotek yang membuat saya tertawa geli dengan nama kerennya yaitu, “Kangean Farma” . Kebanyakan farmasi (apotek) yang saya lihat dinamakan apotek tetapi tidak untuk apotek yang satu ini. Motor pun terus melaju di dalam gelap shubuh. Kemudian, saya melihat pengadilan agama di kiri jalan walaupun Pulau Kangean secara administratif termasuk dalam Kabupaten Sumenep.

Kami sampai di rumah Oni setelah 30 menit naik turun jalan di perbukitan dan melaju di dataran rendah pemukiman penduduk. Sewaktu kami sampai, penduduk masih melaksanakan sholat shubuh di masjid sebelah rumah Oni. Saya disuguhi teh manis hangat oleh Aebok (baca : Ebok). Teh habis, saya pun mandi agar bisa segera menunaikan sholat shubuh. Kemudian, karena capek, saya tertidur lagi.

Saya menghabiskan waktu liburan di rumah Oni selama dua minggu. Dalam dua minggu tersebut ada beberapa hal yang membuat saya kangen pada Kangean. Yang pertama adalah trancam racikan Aebok. Trancam adalah sekumpulan sayuran segar seperti kacang panjang, timun, daun kemangi dll yang dibumbui dan dicampur dengan parutan kelapa. Sejak pertama kali memakan trancam di sebuah warung khusus sambal, saya langsung jatuh cinta. Ternyata, trancam yang dibuat oleh Aebok lebih enak. Ada campuran terasi rupanya. Terasi Kangean tidak sama dengan daerah lain. Bahkan, terasi dari Bangka masih kalah dengan terasinya Kangean menurut saya. Bukan saja enak, bungkusnya juga lucu, serta tidak menyebarkan bau yang menyengat. Saking istimewanya, terasi ini tersedia hanya pada musim-musim tertentu. Penampakan terasinya ntr ya.. to be continued,, ehehehe