Senin, Juni 15, 2015

Kangean,, Sebuah Pulau Yang Bikin Kangen (Part II)

Masih ingat dengan trasi istimewa dari Kangean pada cerita saya sebelumnya???

Ini dia penampakannya,,

Hal tak terlupakan yang kedua adalah laut Kangean dan segala keindahannya. Keindahan laut Kangean ini pertama kali saya buktikan sewaktu diajak ke Cilegung. Sebelumnya, saya sempat nanya-nanya sama Mbah Google Pantai indah yang terdapat di Kangean. Menurut Mbah Google, ada pantai di Kangean yang indahnya mengalahkan Gili Terawangan namun masih belum terjamah oleh wisatawan kebanyakan karena jarak tempuhnya yang sulit. Sayangnya, saya tidak berkesempatan ke sana. Kembali ke Cilegung. Cilegung ibarat kolam renang alami bagi masyarakat Pulau Kangean. Pasalnya, di Cilegung ada sebuah kolam yang airnya berwarna biru kehijauan karena berasal dari laut. Air ini juga mengalir langsung ke laut tapi ketinggiannya tetap. Tiap hujung minggu, Cilegung sering dikunjungi warga untuk sekedar berenang atau mencuci motor. Karena ramainya warga yang berkunjung, banyak pedagang cemilan atau mainan yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengais rezeki.

Hal lain lagi yang membuat saya berdecak kagum adalah berbagai biota laut yang terdapat di pinggiran laut Cilegung. Sampai-sampai saya ingin sekali mengabadikannya tapi sayang keburu kembali ke Malang. Biota yang saya maksud tersebut adalah sejenis Kepiting kecil yang memiliki bentuk tubuh sangat unik (menurut saya sich secara kan dari kecil tinggal di kota). Kepiting ini hanya memiliki satu jepitan dan warnanya tidak sama dengan warna anggota tubuh lainnya. Warna tubuhnya hitam tetapi jepitnya berwarna oren. Awalnya, saya berpikir koq kepiting ini kayaknya bawa pin ya warna oren dan ukurannya seperti tidak sesuai dengan tubuhnya. Kuat banget ya dia. Kemudian, kepiting dengan jenis yang sama namun ukuran yang berbeda mencoba mencuri perhatian saya dengan lewat di samping saya. Tanpa saya sadari, ada berpuluh kepiting yang sedang “bermain-main” di sekitar saya. Mungkin, saya disangka batu karena tidak bergerak. Setelah saya perhatikan, ternyata kepiting itu hanya memiliki satu jepit yang berbeda warna dengan tubuhnya. Subhanallah...

Selain biota, Cilegung juga memiliki keistimewaan yang lain. Terdapat bebatuan kecil di pinggiran laut yang terlihat seperti sungai dengan aliran air jenih yang menuju ke laut besar. Laut besar dan bebatuan tersebut jaraknya lumayan jauh dan ternyata sangat dangkal sekali. Bahkan dalam jarak 100 meter dari pinggir laut, kedalamannya hanya dibawah lutut orang dewasa. Saya hanya bisa terus-terusan berdecak kagum.
Selama di Kangean saya juga pergi ke pinggiran pantai yang jaraknya lumayan dekat dengan pelabuhan. Ada yang bilang namanya Pantai Pasir Putih. Ada pula yang bilang Pantai Pasir Putih yang sesungguhnya sudah hilang ditelan zaman. Pantai tersebut memang tidak sepanjang Pantai Ngliyep di Malang atau seluas mata memandang seperti pantai di balik tebing, Aceh Selatan. Tetapi, pantai ini indah dan bersih sekali. Letaknya tersembunyi di antara bebatuan besar dan berhadapan langsung dengan Pulau Mamburid.


Foto di atas hanya lah sebagian dari bukti keindahan Pantai Pasir Putih. Sambi menikmati angin pantai, kami rujakan dengan mangga dari pohon sendiri dicocol Petis istimewa dari Sumenep yang berbeda dengan petis kebanyakan. Petis ini sangat “limited edition”. Kenapa limited edition, saya sendiri kurang paham. Satu toples kaca kecil harganya kalau tidak salah Rp 25.000. Padahal, petis-petis lain harganya hanya sekitar Rp10.000. Itupun yang sudah beredar luas di Malang. Kalau di tempat aslinya tentu lebih murah. FYI, petis madura berbeda dengan petis Jawa, karena rasanya asin dan terbuat dari ikan. Awal mula saya mengenal petis Madura, saya langsung jatuh cinta. Mau makan nasi, makan buah atau kerupuk, petis Madura tidak pernah ketinggalan. Kalau di Palembang, mungkin ibarat Cuko kali ya. Mirip-mirip gitulah, walaupun beda. Hehehe. Itu tu, toples kaca kecil yang dekat kaki itu yang seharga Rp 25.000.

Kembali lagi ke Pantai Pasir Putih, disini saya pertama kali melihat Bintang Laut. Iya, si Patrick itu lho. Rasanya, excited banget. Menurut Ica, sekarang sudah agak jarang. Kalau dulu buanyaakkk banget. Ternyata bintang laut itu (khusus yang jenis ini, karena bintang laut pasti ada banyak jenis) kulitnya keras banget. Di balik badannya, terdapat lubang kecil mungkin fungsinya mirip lubang hidung manusia kali ya. Karena dari situ sering keluar air.


Semakin siang, posisi si Bintang Laut makin ke tengah. Tengah lautan maksudnya, makin jauh dari bibir pantai. Oya, ada lagi yang menarik, Seperti di Cilegung, pinggiran pantai ini juga dangkal sekali. Waktu kami di sana, ada dua orang pemuda asli yang menawari kami menaiki perahunya menuju Pulau Mamburid, tapi tentu saja kami tolak. Setelah itu, dua pemuda tersebut meningalkan kami ddan mendayung perahunya. Waaupun dua pemuda itu sudah mendayung perahunya lumayan jauh, bunyi “kletak-kletuk” tanda kayu pendayung dan batu karang bertabrakan masih terdengar. Bukankah itu tandanya dasar pantai ini dangkal? Hehehe (ini sich cuma kesimpulan saya). Selanjutnya,, saya akan ceritakan pengalaman saya ke Pulau Mamburid,,PUlau yang diameternya cuma 1 kilometer,, kecil beud,,, To be continued ya,,hehehe

Menentukan Skala Prioritas

Ketika dalam hidupmu kelihatannya terlalu banyak hal untuk ditangani, ketika 24 jam sehari tidaklah mencukupi, ingatlah tentang inspirasi stoples mayonaise dan kopi ini.

Seorang profesor berdiri dalam kelas filosofinyadengan bebrapa benda di hadapannya. Ketika kelas dimulai, tanpa banyak perkataan, ia mengambil sebuah toples yang besar dan kosong dan mulai mengisi stoples itu dengan bola golf. Dia lalu menanyakan pada para siswa apakah stoplesnya sudah penuh. Mereka setuju bahwa wadah itu telah penuh. Profesor lalu mengambil kotak kerikil dan menuangi kerikil ke dalam stoples yang sama. Dia menggoyang stoples dengan perlahan. Kerikil turun mengisi tempat tersisa antara bola golf dan stoples. Dia lalu bertanya kembali pada para siswa apakah stoples tersebut sudah penuh. Para siswa setuju.

Profesor itu lalu mengambil sekotak pasirdan kembali menuangi pasir ke stoples yang ada. Tentu saja, pasir itu mengisi semua rongga yang ada. Profesor bertanya sekali lagi apkah stoples itu sudah penuh. Mahasiswa berkomentar dengan sepakat “ya”. Profesor lalu mengeluarkan dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangi seluruh isinya ke dalam stoples. Segera kopi tersebut mengisi ruang anara pasir dan stoples. Mahasiswa hanya bisa tertawa.

“Sekarang” kata profesor setelah tawa reda. “saya ingin kalian menyadari bahwa stoples ini melambangkan hidup kalian. Bola golf adalah hal yang penting , Tuhanmu, Keluarga, anak-anakmu, kesehatanmu, Teman-temanmu dan hal utamamu. Hal-hal yang jika semuanya hilang dan hanya itu yang tersisa, maka kehidupanmu masih tetap penuh. Kerikil adalah hal lainnya seperti pekerjaanmu, rumahmu, kenderaannmu. pAsir adalah segala sesuatu yang lain pula, tentunya hal yang lebih kecil.

Beri perhatian untuk hal yang bernilai kritis bagi kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Ambil waktu untuk memperhatikan kesehatanmu. Bawalah partnermu untuk makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki saluran pembuangan.”
Taruhlah bola golf terlebih dulu, hal yang benar-benar nyata. Susunlah priorotasmu. Sisanya hanyalah pasir. Satu mahasiswa mengangkat tangan dan menanyakan apa maksud dari kopi. Profesor itu tersenyum : “Saya senang kamu bertanya. Kopi menunjukkan bahwa betapa penuhnya kehidupanmu kelihatannya, selalu ada ruang untuk sepasang cangkir kopi bersama temanmu. “

-Diambil dari buku A-Z Psikologi (Zainul Anwar)-

Sabtu, Mei 09, 2015

Kangean, Sebuah Pulau yang Bikin Kangen (Part I)


Ceritanya, ini belated travel diary. Hehehe.. aku kesana udah dari Desember kemarin. Ke Kangean Island maksud saya. Pulau ini terletak di Kepulauan Kangean, Madura, Jawa Timur. Mungkin masih banyak yang tidak familiar dengan nama pulau ini. Memang, aku maklum koq. Secara, Indonesia kan gede bingiiitzz.. Okelah, back to laptop. Nah, Di Kepulauan Kangean, Pulau Kangean adalah yang paling besar. Sedangkan pulau-pulau lain yang lebih kecil ada Pulau Mamburid, Pulau Raas dll.

Rute yang saya tempuh untuk menuju Pulau Kangean dari Malang bisa dibilang lumayan jauh. Bukan lumayan jauh tapi beneran jauh. Dari Malang, saya harus menaiki travel yang menuju ke Sumenep. Jarak antara Malang-Sumenep sekitar 8 jam. Desember kemarin, ongkosnya adalah 140rb (dapat makan siang). Karena menaiki travel, kami diantar sampai ke depan rumah saudara teman saya yang asli dari Kangean dan tinggal di Sumenep. Setelah beristirahat sebentar sambil mandi dan sholat, sekitar pukul 4 sore, kami berangkat menuju Pelabuhan Kalianget dengan menaiki mobil saudara Oni, teman saya. Sesampai di Kalianget, jam sudah menunjukkan pukul 5 kurang, awan pun mulai berubah warna menjadi kelabu tanda sebentar lagi waktu sholat maghrib tiba.

Usai membeli karcis seharga 75rb, saya dan Oni langsung memasuki kapal Sumekar. Begitu kaki saya memijak lantai kapal, bau-bau asap rokok bercampur bau bawang, ayam dan mungkin termasuk bau keringat penumpang serta sumber yang lain mulai menusuk hidung. Saya tidak pernah membayangkan suasana kapal yang saya naiki akan seperti itu. Sambil berjalan menuju ke tempat tidur (kasur), saya melihat beratus orang yang duduk di atas tikar di seluruh penjuru lantai kapal tersebut. Segala sisi tidak ada yang kosong, baik di lantai tengah, maupun lantai kosong yang berada di pinggiran kapal. Sebagian dari mereka, ada yang duduk di atas kursi, namun lebih banyak yang duduk di lantai entah karena tidak mau membeli kasur atau kehabisan kasur untuk tempat tidur. Kasur yang saya maksud adalah busa tipis yang disusun di atas ranjang-ranjang kecil dalam beberapa kamar khusus. Kasur atau tempat tidur ini bisa dibeli dengan harga 25rb, itupun jika anda memiliki kenalan orang dalam. Ranjang ini hanya setinggi pinggang atau dada orang dewasa. Ya, jadi, bagi penumpang yang mendapat ranjang bawah maka ia harus menunduk atau merangkak untuk mengistirahatkan tubuh di sana. Oya, di kapal ini juga barang bawaan menjadi tanggungjawab masing-masing. Tidak ada bagasi khusus.

Selain kasur, terdapat pula kamar VIP yang berisi 4 orang. Mengenai harganya, saya kurang tau. Yang pasti, biaya 75rb tadi hanya biaya menumpang saja tanpa ada fasilitas lain. Jika kehabisan kasur, penumpang biasanya membawa tikar atau membeli tikar kecil seukuran 1 – 2 orang seharga 2rb saja yang banyak dijual pedagang-pedagang asongan. Mereka ini lah yang saya lihat ketika awal masuk ke dalam kapal. Mereka ada yang membawa anak kecil, lalu karena suasana yang panas, pengap dan sesak, anaknya menangis. Ditambah dengan segala macam bau barang-barang bawaan dan asap rokok, suasana semakin tidak nyaman. Alhamdulillah sekali, untuk kesempatan yang pertama menaiki kapal, saya kebagian kasur. Itupun, saya berkata pada diri sendiri akan ke Kangean lagi kalau sudah ada jalan darat atau menaiki kapal cepat yang biayanya tentu saja berkali lipat dari kapal ini.

Ketika sudah duduk nyaman di atas kasur walaupun dalam keadaan gelap karena cahaya lampunya terhalang oleh ranjang tingkat atas, saya serasa ingin segera leha-leha, tapi tidak lama kemudian, azan maghrib berkumandang. Sebelum kapal bergerak, kami segera ke kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan sholat jama’ mahgrib dan isya’ di atas kasur karena musholla yang hanya berukuran 2m x 2m sudah penuh. Selesai sholat, kami merebahkan badan, mengobrol sambil mengemil ria menunggu kantuk menjemput ke Pulau Kapuk. Entah pukul berapa, kami berdua terlelap dan terjaga kembali ketika sudah sampai di Pelabuhan Pulau Kangean. Jam menunjukkan beberapa menit lagi tepat pukul 4 pagi. Laut begitu tenang malam itu sehingga saya tak merasakan kapan kapal mulai berlayar. Bahkan, kami terbangun oleh suara krasak-krusuk penumpang yang bersiap-siap untuk turun.

Sebagaimana penumpang yang lain, kami juga membereskan barang-barang, lalu turun. Di pelabuhan, kami sudah ditunggu oleh Lek yaitu salah seorang paman Oni. Transportasi yang tersedia di pelabuhan adalah angkot dan ojek. Lek yang mengendarai sebuah motor menyewakan sebuah ojek lagi untuk kami. Tetapi, motor si tukang ojek dikendarai oleh kami berdua. Oni yang menyetir. Sebaliknya, si Tukang ojek dibonceng oleh Lek. Padahal, sebenarnya saya juga tidak apa-apa dibonceng tukang ojek. Hehehe... Oya, mengenai angkot yang terdapat di Pulau Kangean tidak sama seperti di daerah-daerah lain. Angkot disini berwarna hitam dan bentuknya seperti mobil pickup, tetapi ada atap dan tempat duduknya. Pintu masuk yang terdapat di belakang juga tinggi sekali serta tidak ada tangganya.

Sepanjang perjalanan saya menikmati angin shubuh yang menampar manja pipi sambil melihat pemandangan di kiri dan kanan jalan yang notabene adalah hutan. Walaupun hutan, bukan tandanya disana jarang dilewati orang. Tapi, jalan ini adalah satu-satunya akses menuju pelabuhan. Kemudian, kami memasuki kawasan pemukiman, perumahan penduduk. Azan shubuh juga mulai terdengar di beberapa masjid yang letaknya berdekatan. Saling sahut-sahutan. Warga-warga yang berpeci dan sebagian bermukena putih kelihatan berjalan menuju masjid. Motor yang kami boncengi juga sengaja dikurangi kecepatannya oleh Oni agar tidak mengganggu. Di perumahan tersebut terdapat sebuah apotek yang membuat saya tertawa geli dengan nama kerennya yaitu, “Kangean Farma” . Kebanyakan farmasi (apotek) yang saya lihat dinamakan apotek tetapi tidak untuk apotek yang satu ini. Motor pun terus melaju di dalam gelap shubuh. Kemudian, saya melihat pengadilan agama di kiri jalan walaupun Pulau Kangean secara administratif termasuk dalam Kabupaten Sumenep.

Kami sampai di rumah Oni setelah 30 menit naik turun jalan di perbukitan dan melaju di dataran rendah pemukiman penduduk. Sewaktu kami sampai, penduduk masih melaksanakan sholat shubuh di masjid sebelah rumah Oni. Saya disuguhi teh manis hangat oleh Aebok (baca : Ebok). Teh habis, saya pun mandi agar bisa segera menunaikan sholat shubuh. Kemudian, karena capek, saya tertidur lagi.

Saya menghabiskan waktu liburan di rumah Oni selama dua minggu. Dalam dua minggu tersebut ada beberapa hal yang membuat saya kangen pada Kangean. Yang pertama adalah trancam racikan Aebok. Trancam adalah sekumpulan sayuran segar seperti kacang panjang, timun, daun kemangi dll yang dibumbui dan dicampur dengan parutan kelapa. Sejak pertama kali memakan trancam di sebuah warung khusus sambal, saya langsung jatuh cinta. Ternyata, trancam yang dibuat oleh Aebok lebih enak. Ada campuran terasi rupanya. Terasi Kangean tidak sama dengan daerah lain. Bahkan, terasi dari Bangka masih kalah dengan terasinya Kangean menurut saya. Bukan saja enak, bungkusnya juga lucu, serta tidak menyebarkan bau yang menyengat. Saking istimewanya, terasi ini tersedia hanya pada musim-musim tertentu. Penampakan terasinya ntr ya.. to be continued,, ehehehe


Selasa, April 14, 2015

Tips Berpakaian Bagi Pemilik Tubuh Besar

Jika anda kebetulan memiliki tubuh besar, tidak ada salahnya untuk mencoba tips-tips berikut ini untuk memperindah penampilan anda.

1.Jangan pernah pakai baju adik-adik kalian ya (read : baju ketat) ! Baju ketat itu bikin apa yang harus disembunyiin makin kelihatan.
2.Gak selamanya harus pakai baju berwarna gelap koq bagi orang gemuk. Berwarna cerah juga boleh tapi jangan yang ‘mencling-mencling’. Lebih baik pilih warna – warna pastel.
3.Pakailah baju yang yang ketika dikenakan, bagus di tubuh. Jangan melihat baju itu bagus ketika dipanjang di manekin., lalu segera pengen beli. Tubuh manekin belum tentu sama dengan tubuh anda (pasti jauh beda malah).
4.Hindari motif zebra horizontal.
5.Bahan yang sesuai juga membantu untuk sedikit “memperkecil” badan. Pilihlah bahan-bahan pakaian yang jatuh / agak berat. Penggunaan bahan seperti chifon boleh saja asal dilapisi dengan furing ya biar tidak transparan.
6.Penggunaan ikat pinggang juga adalah salah satu cara “memperkecil” tubuh. Tapi, pilih yang ukurannya kecil ya.
7.Outer juga adalah satu outfit yang membantu. Jangan sekali-kali pilih outer yang panjangnya di atas pinggul jika kebetulan pinggul anda lebar.
8.Cara pemakaian jilbab juga menentukan seperti apa nanti penampilan kita. Begitu juga dengan bahan jilbab yang kita pakai akan mempengaruhi penampilan akhir kita. Bahan yang tebal dan tidak jatuh akan ‘menghilangkan’ leher sehingga kelihatan lebih ‘bulat’.

Sekian, itu dulu tips berpakaian bagi pemilik tubuh besar dari saya yang semuanya telah saya praktekkan. Selamat mencoba .

P/S : Di foto ini, saya menggunakan outer untuk 'memotong' sedikit lebar tubuh dan bentuk layer pada cardigan bermanfaat untuk 'mengecilkan' tubuh.


Catatan Perjalanan Malang-Bandung-Medan (Part II)

Yaahh,,,, secara Indonesia kan negara yang penuh dengat adat ketimuran. Sopan santun sangat diutamakan dalam keadaan apapun. Bahkan, marah sekalipun. Balik kepada pasangan tadi, rasanya tidak perlu aku ceritakan lebih lanjut ya aktivitas mereka, mempertimbangkan adat ketimuran kita. Lagian, karena waktu sudah malam, akhirnya aku mafhum saja.

Perjalanan Malang- Bandung ini berakhir sekitar jam 5.00 WIB. Di stasiun Kota Bandung sudah menjelang waktu sholat shubuh. Setelah barang bawaan ku pastikan tidak ada yang tertinggal, aku menuju ke Musholla yang terletak tidak jauh dari pintu keluar kereta. Dari jauh, aku menerka-nerka bagaimana suasana musollanya. Menurut pengalamanku, jarang sekali ada Musolla atau tempat solat umum yang mampu membuatku betah berlama-lama berada di sana. Namun, sepertinya di stasiun ini penilaianku akan berbeda.

Sebaik masuk, “waah,, bagus juga”. Lampu yang menghiasi ruangan kecil tersebut berwarna oren, memberikan sedikit kesan mewah. Ditambah dengan desain interior yang terbilang unik untuk sebuah Musolla. Aku tidak bisa menggambar secara detail karena aku sendiri tidak paham dengan istilah-istilah di dunia arsitektur. Yang pasti, disediakan rak-rak kayu khusus untuk menata Al-Quran dan mukena-mukenanya. Rak kayu ini sepertinya terbuat dari kayu jati warna coklat gelap. Hampir keseluruhan ruangan dihiasi dengan kayu jati warna coklat gelap tersebut, menambah kesan mewahnya. Bukan itu saja, bahkan kamar mandinya pun sangat nyaman sekali. Tapi, waktu itu jumlah penumpang yang memadati mengurangi kenyamanan. Jadi, setelah selesai sholat aku langsung menghubungi teman Ummi yang tinggal di Bandung untuk menjemput.

Pak Candra, teman Ummi yang ku maksud, tiba di stasiun sekitar jam 7 pagi. Dengan menggunakan motor aku dibawa ke rumahnya setelah terlebih dulu sarapan di KFC. Pikiranku masih terbayang-bayang dengan suasana stasiun Kota Bandung yang benar-benar menimbulakn decak kagm dari bibirku. Secara keseluruhan, jika stasiun kereta Kota Malang bernilai 5/10, maka Bandung ku beri nilai 9/10. Ahh, Bandung, suatu hari nanti kau akan kujajah dengan kameraku. Hehe.

Senin, April 13, 2015

(Review) Siang Hari di Salon RumahQu, Kota Malang

Kali ini saya mau ngereview pelayanan di Salon Muslimah RumahQu, beralamat di Jl. Gajayana , persis sebelah Sardo. Awalnya informasi mengenai salon ini saya dapat dari internet, dan kebetulan lokasinya juga dekat dengan kampus saya. Tapi, saya jarang menemukan review dari pelanggan salon ini di blog-blog yang berseliweran di dunia maya sebagaimana banyaknya review mengenai produk kecantikan Hada Labo. Sehingga saya tidak bisa menebak kualitas pelayanan disini. Nah, langsusng saja ya... saya ke salon tersebut hanya buat potong rambut, tapi, karena gak ada pelayanan potong doang akhirnya saya pilih yang potong + hair tonic + vitamin.

Kesan awal masuk, udah gak enak. Sepi dan pegawainya gak tau lagi ngapain. Sekitar 3-4 menit kemudian, baru mbak pegawainya nongol dan meminta saya memilih paket pelayanan. Ruang perawatannya berantakan dengan segala macam peralatan. Selain berantakan, peralatan-peralatannya kelihatan seperti tidak dirawat. Ketika celingak-celinguk memerhatikan sekitar, kelihatan seorang pegawai sedang tidur pulas di salah satu kamar. Waduh, waduh, itu mbak pegawai memanfaatkan waktu kosong dengan baik ya,, (ngomongnya pake ekspresi wajah agak gimanaaa gitu..). Kemudian saya disuruh duduk di sebuah kursi yang dikhususkan untuk keramas sebelum rambut dipotong. Nah,, disini ketidak sreg-an saya pada salon ini semakin nambah. Selama dikeramas, jilbab saya tidak digantung atau dicantol gitu, tapi cuma bia dipegang karena memang tidak ada tempat buat naruh tu jilbab.

Mungkin sekitar 10-15 menit kemudian, rambut saya selesai dikeramas dan hasilnya wangiii... gak tau juga sich pake sampo apa ya. Selain dikeramas, kulit kepala saya juga dipijat untuk melancarkan aliran darah (ini sich saya baca di buku-buku kecantikan gitu, karena mbaknya juga gak bilang manfaat pemijatan kulit kepala itu apaan) . Biasanya setelah keramas kita-kita (kita..gue aja kali,,hehe) ngeringin rambut dengan menggulung rambut kita kencang-kencang dengan handuk, rasanya teknik ini juga dikenakan di sini. Walaupun saya gak bisa melihat dengan jelas apakah teknik yang digunakan sama, tapi feel yang saya rasakan jelas sekali sama. Rasa ketarik-tarik gitu.Padahal di artikel kecantikan yang pernah saya baca, teknik seperti ini tidak baik untuk kesehatan akar rambut.

Okelah, setelah keramas, saya diminta pindah tempat duduk di sebuah kursi yang ada meja riasnya. Si mbak pegawai pun memasangkan apa ya namanya,,lupa saya..pokoknya ya itulah,, biar potongan-potongan rambutnya gak nempel di baju. Lalu rambut saya disisir untuk memulai proses pemotongan rambut. ya, disini proses potong rambutnya dilakukan sewaktu rambut masih basah. Dan, lagi-lagi setau saya nie menurut buku-buku kecantikan yang saya baca, menyisir rambut ketika basah itu akan mematahkan rambut karena helaian rambut beserta akarnya masih lembut sehingga rambut menjadi lebih rapuh. Selain itu, untuk memotong rambut sebaiknya tidak dilakukan pada rambut yang masih basah. Kenapa? Karena hasilnya tidak akan sama jika rambut sudah kering nanti.

Selesai proses potong rambut, kulit kepala saya dipijat lagi serta di'tonikin', baru setelah itu dikeringin pake hairdryer. Selama proses pemotongan sampai pemberian vitamin di akhir, saya melihat-lihat majalah yang terletak di atas meja rias tersebut. Majalahnya sudah jadul, tahun 2012. Jadi malas mau baca artikel-artikelnya. Melihat ke sebelah meja, disana ada rak yang berisi sisir berbagai bentuk dan kebanyakannya dipenuhi dengan rambut. Helai-helai rambut juga terlihat di rak peralatan itu. Haduuh,,, beneran dech, salon ini kurang menjaga kebersihannya. Overall, penilaian saya terhadap pelayanan di salon ini adalah 6/10. Hasil potongan rambutnya tidak sesuai seperti yang saya minta, namun setelah diberi tonik dan vitamin, lumayanlaah,,,, rambut jadi lebih halus. Untuk kedepannya, salon ini tidak akan saya kunjungi lagi. Tapi, penilaian setiap orang kan relatif y, mungkin aja waktu saya ke sana, kebetulan aja keadaannya lagi begitu. Oya, biaya yang harus saya bayar adalah Rp 25,000,-. Terima kasih sudah membaca :). Dan satu lagi, disana area bebas pria, yaiyalah namanya juga salon muslimah.

Senin, September 29, 2014

SPS (Sindrom Pra Skripsi)


Kira-kira sebulan sebelum pengajuan judul skripsi,,

Setiap hari yang Ku lalui terasa amat berbeda sekali. Semua serba salah. Ada saja yang jadi faktor masalah. Mau makan, gak selera. Mau tidur, entar kebablasan. Mau nge-game, kalah terus, gak fokus. Mau jalan-jalan, harus hemat uang buat kebutuhan mendadak nanti pas skripsian. Hal-hal yang selalu aku lakuin buat ngilangin stress, sekarang udah gak mempan.

Misalnya, nonton filem. Biasanya, kalo lagi suntuk atau ngantuk pas ngerjain tugas, solusiku ya nonton filem. Enaknya sich,,, filem yang action gitu, biar adrenalin kita ikut terpacu dan ngantuknya pun hilang. Tapi, semester ini, tepatnya sebulan sebelum skripsi, nonton filem gituan malah bikin ngantuk. Apalagi filem melodrama, ntra malah filem yang nonton kita. Jadi, ketika mata udah mulai sering "berkedip", aku langsung menarik selimut dan menutup mata. Tidur.

Selain nonton filem, aku juga sering jalan-jalan. Sekedar window shopping ke MATOS (Malang Town Square) juga kuanggap jalan-jalan. Ya, window shopping, yang aku artiin belanja mata. Jadi, cuma lihat-lihat doang. Hehehe,,, Paling beli Rotiboy atau Air Mata Kucing rasa Kiwi lah buat ngganjel perut plus ngilangin haus. Kira-kira 2 jam kemudian, aku pun pulang dalam keadaan fresh. Ritual ini cukup ampuh untuk refreshing. Khusus sekarang ini, rasanya gak ada waktu buat ke MATOS. Sebenerya sich, bukan gak da waktu, waktu mah buuuanyaak. Tapi, gak mood. Efek HEMAT. Khawatir kalo tiba-tiba ni tangan khilaf terus ambil sesuatu yang gak seharusnya, lalu dengan tidak sadar mengeluarkan uang dari dompet. Kan bahaya,,,

Terkadang, aku juga melakukan ritual wisata kuliner untuk mengurangi beban pikiran. Hunting-hunting warung atau rumah makan yang menunya unik, enak dan murah. Kalo bisa, banyak. Walaupun untuk kriteria yang terakhir biasanya tidak dipermasalahkan, karena aku kan cewek. Jadi, makannya juga gak porsi jumbo. Entah kenapa, di semester ini, aku belum sekali pun melaksanakan ritual wajib yang satu ini. Ada saja halangannya. Pas uang ada, waktu ada, partner wisata kulinerku lagi gak bisa. Atau pas aku dan partner lagi free, kantong kita kosong. Pokoknya, ada saja yang menghambat.

Dan semua permasalahan kecil yang menumpuk itu penyebab paling besarnya hanya satu. JUDUL SKRIPSI. Ide untuk judul sudah ada, tapi konsepnya belum jelas. Akibat ketidakjelasan konsep penelitian, maka konsultasi ke dosen wali selalu ditunda. Konsep sudah jelas, pas nyoba-nyoba cari referensi, aduuuh,,,,, sulit sekali ketemunya. Tiba-tiba jadi kepikiran mau ganti judul. Padahal, bikin konsep judul yang pertama juga udah puyeng. Hadeecccch,,,,,,

Mungkinkah aku sedang mengalami SPS yaitu SINDROM PRA SKRIPSI???